Sabtu, 16 November 2013

Puluhan Rumah dan Gedung Sekolah di Senduro Rontok Disapu Putting Beliung


(doc. Siti Sulhunaini, Relawan LPBI NU Lumajang) Sedikitnya 15 bangunan termasuk puluhan rumah warga dan satu gedung sekolah di Desa/ Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang rontok diterjang angin puting beliung sekitar pukul 13.00 WIB, Sabtu (15/11/13).
Informasi dari lokasi kejadian, angin puting beliung yang diawali dengan hujan deras tersebut, juga menumbangkan puluhan pohon yang ada di kawasan tersebut. Kerusakan terparah akibat terjangan putting beliung, menurut sumber informasi terjadi di seputaran pasar Agropolitan, Senduro.
"Ada 15 bangunan yang rusak dan puluhan pohon tumbang akibat terjangan angin puting beliung siang tadi Mas," terang Rochani, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang ketika dihubungi.
Dijelaskan, 15 bangunan yang rusak parah, termasuk puluhan rumah warga dan gedung SMP 1 Senduro. "Gedung SMP Negeri 1 Senduro ikut rusak, sebagian ruangan kelas ambruk dan pagar sekolah roboh," jelasnya.
Pasca kejadian, bersama dengan Tim dari BPBD Lumajang, menyusul kemudian sejumlah relawan dan pihak Muspika Kecamatan Senduro, Rochani langsung menuju lokasi guna melakukan pendataan. Sampai di lokasi pun, disampaikan oleh Rochani,   Hujan masih turun disertai angin kencang.
"Ini masih didata sementara, bisa saja bertambah karena hujan masih turun disertai angin," kata Rochani yang turun langsung ke lokasi memimpin timnya.
Relawan LPBI NU Lumajang, Siti Sulhunaini yang juga berada di lokasi mengabarkan, terjangan angin putting beliung di kawasan Kecamatan Senduro ini adalah yang kedua kalinya. Seperti kejadian sebelumnya, terjangan putting beliung kali ini juga merusak sejumlah bangunan, dan menumbangkan puluhan pohon. (yn)

Marisa Cauchi Wanita yang Membongkar Skandal Cinta Sven-Goran Eriksson

Marisa Cauchi Wanita yang Membongkar Skandal Cinta Sven-Goran Eriksson
daily mail
Sven-Goran Eriksson sosok yang tak pernah sepi dari skandal, terutama yang berkaitan dengan perempuan. Pada buku otobiografi yang baru diluncurkannya, My Story, mantan pelatih Timnas Inggris itu mengakui, hidupnya tak bisa lepas dari perempuan.
Eriksson memang tak membuat daftar perempuan-perempuan yang pernah singgah di hati dan ranjangnya dalam buku itu, namun pria berkebangsaan Swedia yang kini berusia 65 tahun itu, menyebut sejumlah nama yang disebutnya sebagai kekasih, termasuk Nancy Dell'Ollio.
Sayangnya, dia melewatkan satu nama penting, Marisa Cauchi. Padahal perempuan miliuner yang tinggal di Burt, Lancashire, Inggris itu, pernah menjadi kekasih Eriksson selama kurang lebih empat tahun, dan berakhir tahun 2011 lalu.
Merasa sakit hati lantaran "tak diakui' dalam sejarah hidup Eriksson, Cauchi pun bertindak. Dia berbicara pada pers dan membongkar skandal seks Eriksson yang mungkin sulit dipercaya orang.
"Dia mengatakan bahwa saya satu-satunya perempuan dalam hidupnya, dan melarang saya berbicara pada umum tentang hubungan kami. Tapi belakangan saya tahu, ternyata di balik larangan itu agar dia bisa berhubungan dengan lima perempuan lain," ujar Cauchi, seperti dilansir Daily Mail.
Yang paling pahit, kata Marisa, dia merasa dibodohi lantaran menjadi satu-satunya orang yang percaya pada kebohongan Eriksson. "Waktu saya marah pada agennya, dia cuma menghela napas. Seolah-olah itu sudah biasa terjadi. Saya benar-benar merasa sangat bodoh," ujarnya.
Skandal cita Erikson juga terkuak setelah telepon selulernya ternyata disadap oleh media Inggris, News of the World selama kurang lebih 4 tahun. Kenyataan ini terungkap dalam persidangan kasus penyadapan telpon yang membuat News of The World ditutup.
Dalam persidangan terungkap jika News of The World menyewa hacker spesialis bernama Glenn Mulcaire untuk menyadap handphone Sven-Goran Eriksson. Saat itu News of The World menyadap handphone Eriksson untuk menggali informasi tentang Faria Alam. Wanita cantik karyawan FA yang terlibat hubungan asmara dengan Eriksson.

Sebelum Dibunuh, Juhardi Diminta Menghadap Batu Nisan

Sebelum Dibunuh, Juhardi Diminta Menghadap Batu Nisan
Ilustrasi M Juhardi (8), bocah yang masih duduk di bangku kelas II SD Negeri 4 Tanah Abang Ilir, Kecamatan Muarakuang, Kabupaten Ogan Ilir, tewas dengan kondisi bagian leher nyaris putus usai ditebas menggunakan sebilah parang, Jumat (15/11) pukul 07.30. Ironis, pelaku ayah kandungnya, Hartono (38).
Jumat pukul 5.00, Sugiyarti (31) seperti biasa melaksanakan salat subuh dan menyiapkan sarapan serta melakukan kegiatan dapur lainnya. Pukul 06.00, Hartono bangun dari tidur dan mandi. Tak lama kemudian anaknya juga bangun tidur untuk segera berangkat sekolah.
Usai menyiapkan keperluan sekolah dan memberi makan, Sugiarti mengantar Juhardi berangkat ke sekolah.
Namun tiba-tiba sekitar pukul 07.15, Hartono membawa parang yang diacung-acungkan, kemudian langsung masuk kelas 2 SDN 4 Muarakuang untuk mengambil anaknya. Tanpa banyak omong, anaknya itu langsung dia gendong keluar kelas.
Kemudian menuju rumahnya anaknya diturunkan, dituntun berjalan kaki. Sambil mencari dan memanggil istrinya yang sedang berada di rumah tetangganya. Namun bukannya kembali ke rumah, Hartono malah membawa anaknya yang masih mengenakan seragam olahraga itu ke tempat pemakaman umum (TPU) sekitar 50 meter dari rumah.
Sugiarti sempat meminta anaknya jangan dibawa, Hartono malah menendang istrinya itu sambil berujar kalau dia hendak ke surga. Tak lama kemudian, sesampai di pemakaman, Juhardi disuruh ayahnya berdiri di depan batu nisan.
Sungguh Juhardi anak yang baik, dia menurut saja perintah sang ayah. Sugiarti saat itu posisinya masih dalam perjalanan menyusul usai terjatuh kena tendang.
Tak lama, Sugiarti mendengar suara tebasan. Dia yang berjarak 3 meter dari lokasi eksekusi berteriak histeris. Juhardi pun tewas dalam kondisi masih mengenakan seragam olahraga, luka bacokan pada bagian leher sebelah kiri sehingga mengakibatkan bocah itu tidak bernyawa lagi.
Kepala Desa Tanah Abang, Hendri (37) bersama warga, datang ke lokasi setelah mendapat laporan dari Kepala SDN 4, Ernasari (51).
Kades dan warga mendapati Juhardi sudah dalam keadaan tergeletak bersimbah darah dengan kondisi tidak bernyawa. Sedangkan Hartono pada saat itu masih memegang sebilah parang.
Hendri dibantu warga mencoba mengamankan Hartono, tetapi langsung dapat perlawanan. Beberapa warga yang mencoba menghalau sempat terkena sabetan, sehingga salah seorang warga desa setempat bernama Budi bin Mahmud terluka.
Hartono juga mengibaskan parang ke arah tubuhnya sendiri hingga mengakibatkan luka bacok pada bagian kepala sebelah kanan serta luka bacok di bagian leher belakangnya. Setalah polisi datang, barulah dia dapat diamankan. Budi dan Hartono kemudian dibawa ke puskesmas.
Menurut Hendri, Hartono warga pendatang yang baru tiga bulan tinggal di Tanah Abang. Sebelumnya dia tinggal di Tugumulyo, Kabupaten OKI.
Kapolsek Muara Kuang Iptu Robi Sugara SH membenarkan telah terjadinya peristiwa berdarah tersebut. "Dugaan sementara, pelaku mengidap gangguan jiwa," katanya.
Robi mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan penyelidikan terhadap motif pembunuhan tersebut. Beberapa orang saksi yang pada saat kejadian tersebut berada di TKP juga dimintai keterangan. Polisi juga memeriksa Kepsek Ernasari, walikelas Ernawijaya (46), dan guru olahraga Herman (48).
Hartono rencananya akan dibawa ke RS Jiwa di Palembang.
Peristiwa ini mengulang insiden sebelumnya pada pertengahan Oktober lalu di Desa Embacang Kecamatan Tanjung Batu, seorang ayah tega menghabisi nyawa anak dan istri dengan menggunakan sebuah Palu karena masalah keluarga. (cr7/SP)

Akhirnya, Dua Pendaki Semeru Yang Hilang Berhasil Ditemukan Semua




Setelah Aziz ditemukan pada Minggu pagi kemarin, menyusul Muhamad Rifki Perdana ditemukan pada Senin siang (11/11/13). (yn/wartajember) - Perjuangan yang gigih para Tim SAR gabungan dalam mencari dua pendaki Gunung Semeru yang sempat hilang sejak hari Rabu (07/11), akhirnya berhasil menemukan keduanya dalam kondisi selamat. Setelah Aziz ditemukan di sebuah jurang di area blank 75 pada Minggu pagi, menyusul Muhammad Rifki Perdana ditemukan di kawasan Gunung Boto pada Senin (11/11/13), sekitar pukul 12.00 WIB.
Keduanya ditemukan dalam kondisi masih hidup. Aziz yang ditemukan lebih dahulu kondisinya mengalami patah tulang kaki kiri akibat terjatuh. Sementara Rifki ditemukan dalam kondisi lemas akibat dehidrasi dan kelaparan.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, Rifki ditemukan di sekitar Gunung Boto yang memiliki ketinggan sekitar 2300 mdpl. Kondisi Rifki disebut sangat lemah saat ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Kepala SAR Kabupaten Lumajang, Nugroho Dwi Atmoko mengatakan, Rifki ditemukan sekira pukul 11.34 WIB. Saat ditemukan, kata dia kondisi Rifki sangat lemah. Sebab, selama lima hari, pemuda kelahiran Jakarta tersebut hanya bertahan dengan minum air. “Al hamdulillah ditemukan dengan selamat,” ungkapnya.
Rencananya, setelah dicek medis oleh medis Polres Lumajang, Rifki langsung diserahkan kepada pihak keluarga. Untuk mengetahui kondisi lebih lanjut, Rifki dibawa ke RS Bhayangkara untuk perawatan lebih lanjut Rifki sudah diserahkanterimakan kepada pihak keluarga. Usai ditemukan oleh tim SAR, Rifki memang langsung dievakuasi. Karena medan relatif aman, proses evakuasi tidak membutuhkan waktu terlalu lama.
Selain kondisi yang lemah, Nugroho mengaku Rifki mengalami sejumlah luka lecet di bagian kaki. Namun, secara umum, Nugroho mengaku kondisinya baik-baik saja. “Sudah mendapatkan perawatan,” ungkapnya.
Ayu Dwi Utari kepala TNBTS saat dihubungi mengatakan, walau ditemukan dalam kondisi masih cukup sehat, namun Rifki mengalami dehidrasi dan kelaparan yang hebat. Dievakuasi dari Gunung Boto, sekitar pukul 16.00 WIB Rifki sudah sampai di posko Tawon Songo dan segera mendapatkan pertolongan pertama.
Sesuai rencana awal, kedua korban yang berhasil ditemukan akan dibawa terlebih dulu ke Lumajang. Sebab, di Tawon Songo hanya mendapatkan pertolongan pertama saja. "Bila sesuai rencana awal kedua korban akan dibawa ke Lumajang," paparnya.
Lanjut Ayu, kemungkinan besar Rifki bisa bertahan selama hampir 5 hari, hanya makan dedaunan dan minum air yang ada di cekungan. Namun, diakui fisik Rifki cukup bagus karena bisa bertahan. "Yang perlu di garis bawahi bahwa Rifki juga baru pertama kali mendaki Gunung," imbuhnya.
Ia melihat, bahwa Rifki terlalu berani dan tidak memperhatiakn aturan-aturan pendakian. Selama Ia menjadi kepala TNBTS sudah ada dua pendaki yang tersesat dan keduanya juga masih baru pertama kali mendaki. "Semeru bukan ajang untuk coba-coba, ini pembelajaran bagi yang lainnya," pungkasnya. (yn)

Terkontaminasi Tambak, 400 Hektar Lahan Petani Tidak Bisa Ditanami

Akibat terkontaminasi air payau tambak, seluas 400 hektar lahan petani tan bisa ditanami. (tim/wartajember) Dianggap telah terkontaminasi air payau tambak, seluas 400 hektar lebih lahan petani, yang membentang mulai dari Desa Kepanjen hingga Desa Mayangan di Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember tidak bisa ditanami lagi. Kondisi ini membuat para petani di dua desa tersebut resah. Anehnya, hingga kini para petani mengaku belum pernah didatangi dinas terkait dengan beberapa solusi penanganan lahan tersebut.
Seperti dijelaskan oleh Said, petani di Dusun Muneng, Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas bahwa semenjak adanya usaha tambak udang yang dikelola investor asal Surabaya tersebut, membuat lahan pertanian yang berada di seputaran tambak menjadi rusak. “Bahkan semakin tahun lahan yang rusak semakin luas. Tahun ini saja, lahan yang kemarin masih bisa ditanami, sudah tidak bisa lagi,” terangnya.
Dijelaskan, sebelum adanya tambak udang yang saat ini berdiri megah tersebut, petani masih bisa bercocok tanam padi dan juga tanaman hortikultura lainnya. Namun, beberapa tahun berselang, kualitas tanaman semakin menurun. Hingga kemudian lahan tersebut sama sekali tidak bisa ditanami.
“Kalau toh ada yang memaksa menanam sesuatu, pasti hasilnya tidak akan baik. Tanaman bisa kering karena kondisi tanahnya,” ujar Said. Semenjak sepuluh tahun silam, mulai tahun 2000 ke atas, lahan seluas 4,5 hektar miliknya, terpaksa dibiarkan begitu saja.
Subhan, petani lain menjelaskan, masalah tersebut sempat dibincangkan dalam forum kelompok tani di desanya. Selain itu upaya masyarakat untuk mencari solusi juga pernah diutarakan kepada pihak desa. Namun hingga kini ternyata masih dalam jawaban ‘menunggu yang di atas’. “Kita petani adalah orang biasa. Kalau sudah di jawab masih menunggu yang di atas, mau apa lagi kita,” terang Subhan.
Suparman, petani lain menjelaskan, penyebab tidak produktifnya lahan ratusan hektar tersebut diindikasikan karena terkontaminasi oleh air laut dari tambak. Diantaranya karena adanya klep yang tidak berfungsi di area tambak tersebut.
“Katup tersebut berada di saluran keluar masuknya air irigasi menuju air laut di sekitar tambak. Dahulunya, ketika masih berfungsi, klep tersebut bisa menghalau air laut yang masuk pada saat air pasang. Kemudian pada sat air surut, klep tersebut dapat membuang saluran air dari irigasi di sekitar tambak,” ujar Suparman.
Said menambahkan, selama ini tidak ada upaya dari pihak terkait untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Seperti halnya petugas dari dinas pengairan dan petugas dari dinas pertanian sendiri, tidak ada yang berupaya memberikan keterangan yang jelas kepada para petani.
“Tidak ada sama sekali upaya penjelasan kepada kami. Seakan mereka hanya bergerak jika ada dana saja. Seperti adanya PPL (petugas penyuluh lapangan), mulai dulu hingga kini tidak ada yang membantu petani mengatasi lahan tersebut,” terangnya.
Kekecewaan para petani terhadap PPL juga dinas terkait, yang terkesan tidak mau tahu dengan kesulitan petani, membuat petani tidak mau membayar pajak atas tanah tersebut sebagai bentuk protes dari kekecewaaan. “Ini sebagai bentuk protes Mas,” jelas Said.
Dirinya berharap, pemerintah bisa mencari solusi tentang permasalahan ini. Sehingga petani bisa bercocok tanam dan bisa meraih hasil dari tanah tersebut untuk kehidupan sehari-hari. “Kalau memang peduli, pemerintah seharusnya menurunkan tim ahli untuk menguji tanah tersebut, guna mencari solusi pemecahannya,” pungkasnya.

Jumat, 15 November 2013

penjual rujak diburu polisi


Takut pelaku datang lagi, Suparmi minta polisi segera tangkap pelaku. (tim/wartajember) - Dengan diantar keponakannya, Suparmi (55), seorang penjual rujak asal Dusun Mandaran II, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember siang tadi (14/11/13) mendatangi Mapolsek Puger. Sambil menunjukkan perban yang membalut luka di tangan kanannya, kepada petugas SPK Suparmi melapor jika dirinya telah dilukai dan diancam akan dibunuh oleh Andrik tetangganya.
Melapornya korban Mapolsek Puger, menyusul luka serius di tangan kanannya akibat menangkis serangan pisau Andrik yang sedang dalam pengaruh minuman keras. “Pisau itu mengarah ke dada saya, untung saja saya tangkis, jadi tangan saya yang terluka,” terangnya.
Sri Sundari, keponakan korban menjelaskan, kejadian bermula saat Suparmi sedang meracik rujak di warung depan rumahnya. Saat itu, pelaku sedang berada di warung tersebut bersama salah seorang temannya.
Karena sesuatu hal, kata Sri, Suparmi menegur salah seorang teman pelaku. Andri yang tidak terima atas perlakuan Suparmi kepada temannya, tiba-tiba saja membentak Suparmi. “Sambil mengancam akan membunuhnya (Suparmi, red),” terang Sri.
Sambil marah-marah dan mengancam akan membunuh korban, lanjut Sri, tiba-tiba  Andrik menuju kerumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari warung korban. Ternyata saat kembali ke warung, Andrik sudah membawa pisau. “Sepertinya saat pulang, dia (Andri, red) sengaja mengambil pisau dari rumahnya,” tambah Sri.
Tanpa disangka, Andrik yang nampak terhuyung saat berjalan akibat minuman keras itu langsung menghunuskan pisau tersebut ke arah korban. Rasa kaget bercampur takut, korban pun spontan menangkis serangan pisau pelaku dengan tangannya. Walau serangan pelaku gagal, namun tangan kanan korban mengalami luka serius setelah menangkis serangan pelaku.
Di lingkungan Dusun Mandaran, Andrik terkenal sebagai orang yang ganas dan pemabuk. Bahkan, para tetangga yang waktu itu sempat menyaksikan ulah pelaku pada korban, hanya memilih diam karena merasa takut dengan pelaku. Karenanya para tetangga tidak ada yang berani mendekat.
“Dia baru saja keluar dari penjara. Sekitar dua minggu yang lalu,” terang Sri. Sementara itu, usai menyerang korban, hingga tangan korban berdarah-darah, pelaku ternyata langsung kabur entah kemana.
Walau laporannya sudah rampung, Suparmi terlihat enggan pulang kerumahnya. Dia mengaku takut, jangan-jangan pelaku mendatanginya lagi dan berbuat jahat. “Ya kalau di sini saya masih aman. Bagaimana nanti malam atau kapanpun, jika tidak segera ditangkap, kan bisa saja datang lagi untuk menyerang saya kembali,” terangnya.
Kondisi itu, membuat petugas Polsek Puger bergegas melacak keberadaan pelaku yang diketahui langsung kabur usai melukai tangan korban. Selain itu, sepak terjang pelaku dinilai cukup membahayakan. Karena dalam catatan kriminalnya, pelaku merupakan residivis kambuhan yang berkali-kali masuk penjara dengan berbagai kasus. (tim)

korban puting beliung di bangsal sari jember


Puting beliung yang menerjang kawasan Bangsalsari pada Senin sore mengakibatkan dua rumah warga rata dengan tanah. (tim/wartajember)wartajember.com – Terjangan angin puting beliung di Dusun Jatisari, Desa Tisno Gambar, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember pada Senin sore kemarin membuat banyak pepohonan tumbang. Lebih parah lagi, terjangan putting beliung juga membuat dua rumah warga di kawasan Bangsalsari ambruk.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun hingga Selasa sore tadi, sesuai penuturan Aziz, kepala desa setempat, masih belum ada kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Jember pada nasib warganya yang terkena musibah putting beliung tersebut.
“Saya sudah melihat, bahkan sudah saya laporkan ke Bapak Camat,” kata Aziz, Kepala Desa Tisnogambar ketika ditemui wartawan sore tadi. Aziz juga menyesalkan sikap pemerintah daerah, yang terkesan tidak peduli dengan korban bencana.
Pada beberapa kejadian yang menimpa warga desanya, kata Aziz, pemerintah daerah selalu terlambat dalam memberikan bantuan. “Saya sempat menyurati secara resmi, hingga mengirim foto, namun kurang ada perhatian serius,” terangnya.
Hingga sore kemarin, belum ada bantuan dari pemerintah yang menghampiri korban. Para korban yang rumahnya rata dengan tanah, terpaksa memilih numpang ke rumah tetangga sambil menunggu bantuan pemerintah untuk membangun rumahnya kembali.
Saham (50), warga Dusun Jatisari, Desa Tisno Gambar, Kecamatan Bangsalsari yang rumahnya ambruk total oleh terjangan putting beliung mengatakan, bahwa saat kejadian dirinya tidak sedang berada di rumah. Begitu mendapat kabar, dirinya langsung bergegas pulang.
Walau didapati rumahnya sudah rata dengan tanah, namun Sahan bersyukur karena seluruh anggota keluarganya masih diberi selamat dari musibah tersebut. “Ya bersyukur Mas, walau barang-barang tidak ada yang bisa diselamatkan, namun seluruh angota keluarga selamat,” terang Saham.
Kejadian itu sendiri, diceritakan oleh Siadi menantu Saham, diawali dengan turunnya hujan yang tidak terlalu deras. Namun kemudian angin berembus sangat kencang. “Seperti suara kapal. Dan kami (istri, anak, dan iparnya, red) waktu itu berada di dalam rumah,” kata Siadi.
Tiba-tiba saja, puting beliung menerjang sisi barat rumahnya, yang seketika itu membuat rumahnya roboh. “Saat rumah akan roboh, beruntung ada salah satu kayu rumah yang masih menahan genteng. Jadi kami bisa selamat,” terang Siadi yang hanya mengalami luka lecet di punggungnya.
Atas kejadian tersebut, Saham mengaku tidak tahu pasti kapan dirinya bisa membangun rumahnya kembali. Sahan dan keluarganya yang kini masih menumpang di rumah tetangga itu pun berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah dalam membangun rumahnya kembali. (tim)

penjual genteng ngecer togel,

wartajember.com – Berawal dari informasi warga, jika di lingkungan Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember ada seorang bandar togel, jajaran Reskrim Polsek Wuluhan segera turun ke lokasi. Ternyata benar, ketika kembali, jajaran Reskrim sudah menggelandang Solihin (42), warga setempat yang berprofesi sebagai penjual genteng.
Solihin yang ditangkap petugas melalui sebuah penggerebekan di rumahnya sekitar pukul 16.30 WIB kemarin, terbukti bersalah karena telah menggabungkan bisnis jual genteng dengan bisnis barunya ‘ngecer’ togel. Selain berhasil mengamankan Solihin, sejumlah alat pendukung judi togel juga diamankan dari rumah Solihin sebagai barang bukti (BB)
“Saat kami mendatangi rumahnya, tersangka sempat hendak kabur. Sedang barang bukti yang kami amankan berupa buku rekapan togel, I-Phone buat transaksi dan uang hasil penjualan sebesar Rp 300 ribu,” terang Aiptu Mukiyat, Kanit Reskrim Polsek Wuluhan.
Dijelaskan, pelaku yang sempat berupaya kabur saat petugas datang, akhirnya menyerah ketika mengetahui polisi sudah berada di depan dan di belakang rumahnya.
Dalam pemeriksaan, pelaku mengaku jika dirinya masih satu setengah bulan menjalankan bisnis haramnya tersebut. “Sebelumnya saya sebagai pembeli, namun dapat satu setengah bulan ini saya menjadi bandar,” tegasnya.
Atas perbuatannya tersebut, pelaku dijerat dengan pasal 303 KUHP tentang perjuadian. Dengan ancaman hukuman tiga tahun penjara.
Sementara, AKP. Jumadi, Kapolsek Wuluhan, menjelaska, jika pihaknya memang gencar memberantas penyakit masyarakat yang kian meraja lela tersebut. “Kami akan terus berupaya untuk memberantas segala penyakit masyarakat di wilayah kami,” terangnya. (tim)

berita dari jember

http://wartajember.com/hukum-kriminal-jember/2527-pelapor-mengaku-puas-dengan-sanksi-pencopotan-jabatan-terlapor