A’ak Abdullah Al-Kudus, ketua Paguyuban
Jharan Kencak Lumajang mengatakan dalam festival ini bakal digelar pada
Minggu, 1 Desember 2013, rute dari alun-alun kabupaten Lumajang melewati
jalan PB Sudirman hingga terakhir di Stadion Semeru.
Dijelaskan, tampilan kuda terbaik
Lumajang, yang akan menari menggunakan dua kaki di sepanjang jalan utama
kota Lumajang. Juga atraksi unik dan lucu dari tarian kopyah para
pawang kuda akan disuguhkan buat masyarakat Lumajang.
Sebagai Ketua Paguyuban Jaran Kencak
Lumajang, A’ak mengaku sangat senang atas respon Pemkab Lumajang, dalam
mewadahi seni Jaran Kencak sebagai kesenian kas daerah. Apresiasi ini,
diharapkan bisa terselenggara dalam konteks yang lebih esar lagi. “Kami
senang bisa tampil melestarikan kesenian daerah di tengah kota,”
terangnya.
Seperti daerah-daerah yang lain,
setidaknya seni Jaran Kencak bisa menjadi icon budaya Lumajang yang bisa
menasional, bahkan mendunia. Di samping akan menjadi tontonan yang
sangat menghibur bagi masyarakat Lumajang, festival kesenian asli
Lumajang ini, akan membangkitkan rasa bangga dan kecintaan di hati
masyarakat.
Kesenian tradisional asli Lumajang ini,
dijelaskan oleh A’ak, muncul pada masa Kerajaan Wirabhumi dengan Raja
Arya Wiraraja. Kekuasaan Wirabhumi meliputi Tapal Kuda dan Madura,
bahkan hingga ke Bima dengan pusat kerajaannya di Kuta Raja Lamajang
yang kini menjadi Desa Biting.
Kesenian ini adalah bentuk ekspresi suka cita masyarakat atas kondisi wilayah yang makmur dan sejahtera, gemah ripah lah jinawi. Ada
juga yang menyebutkan kesenian ini bentuk penghormatan pada kuda
Ranggalawe (putra Arya Wiraraja) yang bernama Nila Ambhara. Kuda itu
menurut dia terkenal sebagai kuda paling tangguh dan pintar.
Adalah Klabisajeh, pertapa suci yang
tinggal di lereng Gunung Lemongan, sebagai orang pertama kali yang
menciptakan kesenian Jaran Kencak ini. Berkat kesaktiannya dia bisa
membuat kuda liar menjadi tunduk jinak dan pandai menari.
Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya
(Kanparsenbud) Kabupaten Lumajang, Gawat Sudarmanto, menegaskan
Pemerintah Daerah akan mengupayakan agar Festival Jaran Kencak bisa
dilaksanakan rutin. Yakni tiap tanggal 1 Desember membuka perayaan
Harjalu. “Supaya Festival Jaran Kencak menjadi agenda wisata nasional,”
katanya. (yn)